Insights Life

BUYA NATSIR : PERDANA MENTERI YANG BERSAHAJA

BUYA NATSIR : PERDANA MENTERI YANG BERSAHAJA

Mohammad Natsir Datuk Sinaro Panjang, seorang pria kelahiran Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat, pada tanggal 17 Juli 1908 merupakan seorang yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia pada tahun 2008 melalui Keputusan Presiden Nomor 041/TK/Tahun 2008 di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau merupakan seorang pahlawan, politisi sekaligus ulama muslim patriot yang sejak sebelum lahirnya negara Republik Indonesia telah menyibukkan diri dan mencurahkan segala pikirannya untuk masa depan negara yang diperjuangkan kemerdekaannya itu. Buya Natsir, sudah secara sadar melibatkan diri dalam perjuangan demi mempertahankan kemerdekaan dan menegakkan kedaulatan Indonesia. Tokoh yang pantas untuk dicatat menggunakan tinta emas akan keberhasilannya melalui Mosi Integral yang didukung oleh semua pimpinan fraksi di Parlemen Republik Indonesia Serikat, mampu memulihkan negara kesatuan dengan cara-cara yang bermartabat, tanpa pertumpahan darah dan tampa mempermalukan pihak manapun.

Mosi Integral adalah gagasan yang diajukan oleh Mohammad Natsir selaku tokoh Partai Masyumi di Parlemen pada tanggal 3 April 1950. Tujuan dari Mosi Integral ini adalah mengembalikan negara Indonesia yang semula berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). RIS merupakan konsekuensi yang diterima negara Indonesia setelah adanya Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. Melalui RIS, Indonesia dibagi ke dalam 16 negara bagian yang terdiri dari Negara Dayak Besar, Negara Indonesia Timur, Negara Borneo Tenggara, Negara Borneo Timur, Negara Borneo Barat, Negara Bengkulu, Negara Biliton, Negara Riau, Negara Sumatera Timur, Negara Banjar, Negara Madura, Negara Pasundan, Negara Sumatera Selatan, Negara Jawa Timur, dan Negara Jawa Tengah. Adapun pada masa RIS, wilayah negara Republik Indonesia hanyalah di sebagian Pulau Jawa, Madura, dan Sumatera. Berbagai pergolakan di daerah pun terjadi demi kembalinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah berbulan-bulan dilakukan diskusi, pembicaraan dengan berbagai fraksi di Parlemen, Mohammad Natsir menggaungkan agar seluruh negara bagian bersama-sama mendirikan negara kesatuan melalui prosedur parlementer melalui Mosi Integral. Parlemen RIS itu pun kemudian menerima mosi dari Mohammad Natsir tersebut dan meminta pemerintah untuk segera melakukan langkah-langkah konkrit untuk membentuk NKRI. Pada akhirnya, Presiden Soekarno membubarkan RIS di tanggal 17 Agustus 1950 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia kembali diproklamirkan, dan momen ini dikenal sebagai “Proklamasi Kedua”.

Belum genap satu pekan setelah Proklamasi Kedua digelar, Presiden Soekarno menunjuk Mohammad Natsir dari Partai Masyumi untuk berperan sebagai formatur kabinet, yang berarti seorang Perdana Menteri. Mohammad Natsir menjadi Perdana Mentri pertama yang menyusun kabinetnya pasca RIS dibubarkan. Setelah bekerja keras selama 15 hari untuk membentuk Kabinet, Presiden Soekarno melantik Kabinet Natsir pada tanggal 7 September 1950. Garis kebijakan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif  dicetuskan pertama kali ketika Mohammad Natsir menjadi Perdana Menteri. Dalam masa pemerintahan Perdana Menteri Mohammad Natsir, Republik Indonesia menjadi Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada 27 September 1950 Majelis Umum PBB dengan suara bulat menerima Indonesia menjadi anggota PBB yang ke-60.

Warisan monumental lainnya dari Kabinet Natsir, meski memegang pemerintahan dalam periode yang singkat, ialah menetapkan pelajaran agama sebagai mata pelajaran pokok di sekolah-sekolah. Semasa Mohammad Natsir menjadi Perdana Menteri, yang menjabat Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan ialah Prof. Play for free and win real money with these top no deposit bonuses from online casinos Dr. Bahder Djohan, dan Menteri Agama K.H.A. Wahid Hasjim. Dalam periode itu lahir Peraturan Bersama Menteri PP dan K dan Menteri Agama tanggal 20 Januari 1951 dan mulai berlaku 1 Februari 1951 bahwa di tiap-tiap sekolah rendah dan sekolah lanjutan (umum dan vak/kejuruan) diberikan pendidikan agama menurut agama masing-masing murid. Kebijakan Kabinet Natsir tentang pendidikan agama di sekolah-sekolah umum  membentengi dunia pendidikan Indonesia dari Sekularisasi.

Sebaik dan sehebat apapun Mohammad Natsir, beliau tidak dapat bertahan lama dalam era demokrasi liberal dan pemerintahan partai-partai. Belum genap 1 tahun, Kabinet Natsir mundur dari jabatan Perdana Menteri dan digantikan oleh Kabinet Sukirman dengan pimpinan Dr. Soekirman Wirjosandjojo yang dilantik pada tanggal 27 April 1951. Menariknya, setelah Mohammad Natsir mundur dari jabatan Perdana Menteri tahun 1951, ia tidak mau menerima sisa dana taktis hak Perdana Menteri yang disodorkan oleh sekretarisnya, Maria Ulfa. Akhirnya dana itu dilimpahkan ke koperasi karyawan. Bahkan, beliau meninggalkan mobil dinas di istana presiden dan pulang dengan mengendarai sepeda ontel dengan sopirnya menuju ke rumah jabatan Perdana Menteri. Hari itu juga Natsir mengajak istri dan anak-anaknya meninggalkan rumah jabatan, kembali ke rumah pribadi di Jalan Jawa.

Itulah Buya Mohammad Natsir, seorang Perdana Menteri dengan segala kesahajaannya. Tidak hanya ditunjukkan pada saat beliau mundur sebagai Perdana Menteri, akan tetapi ia telah dikenal bersahaja bahkan sebelum menjadi Perdana Menteri. Seorang sejarawan dari Amerika, George Mc Turnan Kahin, sempat menyaksikan langsung kebersahajaan dari sang maestro dakwah, saat bertemu di Yogyakara pada tahun 1948. Kahin terkejut, Ketika melihat Buya Natsir memakai kemeja yang terdapat tambalan. Padahal, saat itu beliau menjabat sebagai Menteri Penerangan. Cerita lainnya diutarakan oleh anak sulungnya, Sitti Muchliesah. Suatu hari, ayahnya pernah menolak sumbangan mobil Chevrolet Impala dari tamu yang berasal dari Medan. Rupanya Buya Natsir menolaknya dengan halus dan merasa cukup dengan mobil DeSoto kusam miliknya. Bagi beliau yang saat itu masih menjadi anggota parlemen dan pemimpin fraksi Masyumi, dirinya tak berhak menerimanya. Di samping itu, mobil yang dipunya pun masih bisa dikendarai. Begitu pula saat beliau mendapat Jaizat Al-Malik Faisal Al-‘Alamiyat (The King Faisal Award), beliau memperoleh piagam, medali emas, dan uang sebesar 100 ribu riyal. Menariknya, uang sebanyak itu tidak dipakai sendiri. Tapi, diserahkan ke kasir DDII untuk dibagikan ke seluruh karyawan di setiap biro dan unit DDII.

Buya Mohammad Nasir Datuk Sinaro Panjang, kesederhanaan dan perjuangannya bagi Bangsa dan Islam di Indonesia patut kita apresiasi dan kita tiru. Sang Maestro dakwah yang mendedikasikan dirinya, untuk Bangsa dan Agama Islam. Sang Pahlawan dan Pejuang, yang semoga Allah senantiasa merahmatinya dengan rahmat yang luas, rahimahullaahu rahmatan waasi’ah.

“Tiada percetakan yang bisa mencetak pemimpin. Pemimpin tidak lahir di bilik kuliah, tapi tumbuh sendiri dalam hempas pulas kancah, muncul di tengah-tengah pengumpulan masalah, menonjol di kalangan rakan seangkatan, lalu diterima dan didukung oleh umat”

 Buya Mohammad Natsir Datuk Sinaro Panjang

Visited 39 times, 1 visit(s) today
Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *