بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله وكفى وصلاة وسلام على رسول المجتب سيدنا ومولانامحمد المسطفى وعلر اله وكل منتبع الهدى
أشهد أن لا إله الا الله ولا ولده وأشهد أن محمد عبده ورسوله اصادق الوفى
حيكم بتحية الإسلام بتحية المنعند الله بتحية الجنة
السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته
قال الله تعالى في كتابه الكريم وهو اصدق القاعلين
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال أيضا ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما
فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار
أما بعد…
إخوان في الدين أعاذنا الله وإياكم
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan. Pada bulan Ramadhan, para pendahulu kita yang shalih (salafuna shalih) senantiasa memberikan contoh pada kita semua untuk lebih bersemangat dalam beribadah, tidak hanya beribadah yang mahdhah saja tapi juga pada ibadah – ibadah lainnya seperti muamalah, qital, dan sebagainya. Apabila kita menengok pada sejarah – sejarah terdahulu, maka kita akan menemukan semangat – semangat perjuangan mereka dan indahnya kemenangan yang mereka dapatkan. Coba kita baca sirah nabawi, kita akan menemukan salah satu kesungguhan mereka di bulan Ramadhan pada saat pasukan muslim yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menghadapi kaum musyrikin Quraisy di perang badar pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 H, maka akan kita dapati kesungguhan ketaatan mereka radhiyallahu anhum ajmain hingga pasukan kaum muslimin dapat memenangkan pertarungan tersebut atas ijin Allah azza wa jalla wal jalaalah. Begitu pula apabila kita melihat sejarah – sejarah lainnya seperti pada perang hittin saat pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Sulthan Shalahuddin Al-Ayyubi menghadapi pasukan salibis yang dipimpin oleh Guy De Lusignan, mereka pun memenangkan perang ini di bulan Ramadhan tahun 682 H, dan masih banyak lagi contoh – contoh salafuna shalih dalam tradisi meningkatkan semangat ketaatan di bulan Ramadhan, bahkan tercatat kurang lebih 20 peperangan yang kaum muslimin menangkan pada bulan Ramadhan. Ini menjadi ibrah yang sangat besar bagi kita semua saat ini bahwa di bulan Ramadhan sepantasnya lah kita meningkatkan etos kerja, semangat beribadah, bukan menguranginya. Banyak bekerja bukan banyak berleha – leha, banyak tilawah bukan banyak tertawa – tawa baik ketika sahur, berbuka bahkan saat berpuasa menonton program – program yang tidak bermanfaat di televisi.
إخوان في الدين أعاذنا الله وإياكم
Selain itu, mengenai kemenangan – kemenangan yang diraih oleh kaum muslimin, para ulama telah banyak yang membahas mengenai faktor – faktor yang menjadikan kaum muslimin ini kalah dan faktor – faktor yang menjadikan kaum muslimin ini menang. Seperti pada disertasi seorang doktor di Mesir, Dr. Al-Kilani yang menjadikan sejarah bangkitnya kaum muslimin yang dipimpin oleh Sulthan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam kemenangan atas pasukan salibis sekaligus membebaskan kembali Al-Aqsa ke pimpinan kaum muslimin sebagai judul disertasi beliau dengan judul هكذا ظهر جيل صلاح الدين وهكذا عادت القدس . Dalam disertasi beliau dijelaskan bahwa ternyata kemenangan kaum muslimin atas kaum salibis tidak dapat dinisbatkan hanya kepada sosok shalahuddin saja, namun juga karena pasukan yang dipimpinnya telah ter-tarbiyah (terbina) dengan tarbiyah yang amat panjang, tarbiyah yang amat dalam dan tarbiyah yang amat hebat. Palestina semenjak jatuhnya ke tangan kaum salibis hingga diraih kembali oleh kaum muslimin memiliki jeda 90 tahun lamanya, dan selama itu pula lah tarbiyah dari generasi ke generasi dilaksanakan. Tarbiyah ini dilakukan untuk mengembalikan izzah kaum muslimin dengan cara mengembalikan pemahaman beragama yang benar dan mengembalikan tauhid kaum muslimin pada sebenar – benar tauhid yang mana inilah yang menjadi faktor utama kemenangan kaum muslimin, dan mafhum mukholafahnya adalah kekalahan kaum muslimin terjadi karena selemah – lemahnya iman, selemah – lemahnya tauhid dan penyakit al-wahn (hubbud dunya wa karohiyatul maut). Diceritakan dalam sejarah pada masa kemunduran kaum muslimin, terjadi perselisihan antara penuntut ilmu akhirat dan para penuntut ilmu dunia. Penuntut ilmu dunia membanggakan ilmu mereka yang memang ilmu yang terbaik untuk dicari dan mencela para penuntut ilmu dunia, dan begitu pula para penuntut ilmu dunia mencela para penuntut ilmu akhirat dengan berkata “mendingan kami, para penuntut ilmu dunia, tidak munafik. Mencari dunia dengan dunia, daripada kalian mencari dunia berkedok ilmu akhirat! Untuk apa kalian menuntut ilmu akhirat kalo tidak ingin menjadi Qadi, menjadi Ulama, pegawai pemerintah yang digaji oleh negara!”. Maka Imam Abu Hamid Al-Ghazali pada saat itu menengahi itu semua dengan memuji para penuntut ilmu akhirat dan berkata kepada mereka “sesungguhnya ilmu dunia itu tidak hanya mengenai dunia, tapi juga bisa mendaji ilmu akhirat. Contohnya apabila seorang dokter ditanya oleh pasiennya mengenai kondisi penyakitnya apakah memungkinkan untuk berpuasa di bulan Ramdhan atau tidak, maka ketika dokter itu menjawab pertanyaan itu adalah fatwa. Fatwa dari seorang ulama kedokteran mengenai rukum islam ke-empat seorang muslim”. Di lain cerita Imam Al-Ghazali juga ditanya oleh seorang penuntut ilmu, “untuk apa orang – orang di Al-Ghazal mempelajari dan menekuni ilmu tenun menenun yang tidak ada hubungannyya sama sekali dengan ilmu akhirat”, maka beliau menjawab dengan cerdas “ilmu mengenai tenun menenun, bukan hanya mengenai ilmu dunia, tapi juga ilmu akhirat. Apa jadinya aurat kaum muslimin apabila ilmu mengenai tenun menenun ini diserahkan kepada kaum kuffar” dan itu terjadi pada masa sekarang ini, ketika fashion dikuasai kaum kuffar dan berkiblat ke barat, ke negeri – negeri eropa, amerika, Allahu musta’an.
إخوان في الدين أعاذنا الله وإياكم
Sesungguhnya solusi mengenai bangkitnya kemuliaan kaum muslimin dari kehinaan ini sudah Rasulullah sabdakan, yakni dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam sunannya dari jalan – jalan yang shahih :
إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا، لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم
“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘Inah, mengikuti ekor-ekor sapi, dan kalian ridho dengan hasil – hasil pertanian kalian, dan kalian meninggalkan jihad fii sabiilillah, Allah akan menimpakan kehinaan pada kalian. Allah tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada din kalian”Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun telah berwasiat dalam khutbahnya kepada para sahabat yang diabadikan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya dengan jalan – jalan yang shahih
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Aku wasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah, dan dengarkan serta taatilah (pemimpin kalian) walaupun pemimpin kalian dari budak habasyah. Maka sesungguhnya barang siapa diantara kalian yang hidup (sepeninggal Rasulullah) akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara – perkara yang diada – adakan, karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barang siapa diantara kalian yang menjumpai hal itu hendaknya ia berpegang teguh dengan sunnahku dan Sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah Sunnah – Sunnah itu dengan gigi geraham”Kemudian pahamilah Sunnah – Sunnah itu dengan pemahaman para generasi terbaik dan generasi terbaik menurut hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari adalah
… خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
“Sebaik – baik manusia adalah pada masaku, kemudian masa setelahnya (para tabi’in), kemudian masa setelahnya (para tabiut tabiin)…”Demikianlah pesan dari saya, semoga kita dapat meningkatkan semangat kita di bulan suci Ramadhan ini dan mengembalikan izzah kaum muslimin dengan senantiasa melandasi apa yang kita kerjakan dengan tuntunan – tuntunan syariat yang paripurna, aamiin.
بارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
أَقُولُ قَوْلِى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Akhukum fillah,
Abu Zanki Gina Kusuma ibn Syaifullah ibn Kartobi
Serpong, 13 Juni 2016 M / 7 Ramadhan 1437 H
