CATATAN KAJIAN “TAUHID PENENTU KEBAHAGIAAN RUMAH TANGGA” – Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.
abuzanki
- August 26, 2026
- 7 Min Read
Selasa lalu, tanggal 25 Agustus 2026 kita sekeluarga libur di rumah karena ada tanggal merah peringatan “maulid Nabi Muhammad ﷺ”. Bersamaan dengan itu, semenjak hari Sabtu, istriku mengabari aku kalau di hari Selasa nanti, ada kajian menarik dari Ustadz Syafiq hafidzhahullaah bertema “Tauhid Penentu Kebahagiaan Rumah Tangga” di Masjid Al-Ukhuwwah BSD, Cisauk. Semula aku terpikir ingin cari kajian di weekend dan bukan Ustadz “Kibar” aja, karena kalo Ustadz sekelas Ustadz Syafiq, biasanya animo jama’ahnya MaaasyaaAllaah pasti membludak, teringat ketika dulu ikut juga tabligh Akbar yang diisi Ustadz Firanda hafidzhahullaah juga MaasyaaAllah yang hadir membludak sampai-sampai susah pas hendak shalat Maghrib dan Isya’. Tapi qadarullaah, di hari Sabtunya ada kajian buat anak-anak dan Ahadnya kami ada acara lainnya, sehingga kami memantapkan niat untuk hadir di kajian Ustadz Syafiq di hari Selasa.

Setelah pagi sampai siang berkegiatan lainnya, ba’da ashar kami Bersiap untuk menuju ke Masjid Al-Ukhuwwah. Yah, namanya pasutri beranak 3 bocil TK dan SD, lumayan juga nge-“gebah” buat siap-siapnya, sampai akhirnya kita berangkat sekitar jam 16 lewat 15 atau 20 menit. Di tengah jalan, si sulung merasa lapar, padahal baru saja sekitar jam 14.30 makan dulu nasi briyani plus ayam bakar, memang masa pertumbuhan bikin cepet laper kayaknya ya. Akhirnya coba cari dulu makanan buat ganjal perut anak-anak utamanya. Berhentilah di Indomaret sekitar Puspiptek – Muncul, istriku meminta belikan onigiri saja buat anak-anak, tapi qadarullaah ketika masuk dan bertanya ke kasir, produknya sedang kosong. Yasudah, akhirnya bilang ke istri kosong dan lanjut dulu cari makanan di tempat lain. Sambil menyetir aku lirik-lirik kanan kiri kira-kira bisa cari si onigiri dimana lagi, sampai akhirnya terpikir kalau biasanya di acara tabligh akbar banyak yang jualan di sekitar area masjid (buka di masjidnya ya, karena kita dilarang jual-beli di masjid). Akhirnya kita putuskan cari makanan di sekitar lokasi kajian saja.
Sampai di Masjid Al-Ukhuwwah sekitar jam 17.00 lewat beberapa menit lah, dan benar, kendaraan roda 4 dan roda 2 sudah mulai berdatangan. Arus lalu lintas menuju area parkir dibuat satu arah, masuk melalui sisi sebelah kanan dan sisi sebelah kiri jalan untuk akses keluar. Setelah cari-cari parkiran beberapa menit, kami di arahkan berputar melewati masjid dan parkir di tanjakan persis pintu keluar masjid, alhamdulillaah jadi ngga perlu jalan terlalu jauh setelah kajian. Namun, karena tadi kita sudah berniat mencari makanan di area sekitaran masjid, akhirnya kami keluar area masjid ke arah atas dan membeli beberapa makanan dan minuman untuk mengganjal perut. Pas setelah kami selesai membeli makanan, tibalah mobil rombongan Ustadz Syafiq hafidzhahullaah sekitar 3 atau 4 mobil dipandu para panitia.
Setelah kembali ke area masjid, kami makan dulu beberapa makanan di area luar teras masjid, karena memang tidak diperbolehkan makan di dalam masjid. Makan sekitar 10-15 menit, kami langsung masuk ke masjid karena alhamdulillaah sudah wudhu dari rumah dan dijaga agar tidak batal, soalnya belajar dari pengalaman lalu kalau acara ramai seperti ini sulit untuk akses keluar-masuk masjid. Kami masuk ke masjid dan masih banyak area shaf-shaf yang kosong, terutama bagian belakang di dalam masjid. Aku dan kedua anak laki-lakiku mengambil tempat di shaf belakang persis di depan tirai pemisah antara jamaah ikhwan dan akhwat, alhamdulillaah tempat yang nyaman dan shafnya tidak terputus atau terhalang tiang, padat rapat dan masih nyaman. Setelah melaksanakan shalat tahiyyatul masjid, kami duduk menunggu adzan maghrib diisi dengan “tebak-tebakan” sambung ayat dari hafalan anak-anak, surat Al-Mursalat, Al-Insan dan Al-Qiyamah, alhamdulillaah mereka semangat dan antusias, sampai akhirnya datang Ustadz hafidzhahullah di dalam masjid dan adzan dikumandangkan. Tak lama setelah adzan, iqamah secara langsung dilantunkan agar acara kajian ba’da maghrib dapat segera dilaksanakan.
Setelah shalat maghrib, kajian langsung dilaksanakan, Ustadz membuka dengan salam dan meminta para jamaah untuk berbagi tempat dan jangan bakhil. Sampai-sampai Ustadz meminta para jamaah berdiri dan meminta untuk maju satu sentimeter saja ke depan. Tapi, MaasyaaAllaah, betul setelah bergeser, tempat jadi semakin luas dan para jamaah di luar bisa masuk ke dalam masjid untuk mengikuti kajian beliau. Setelah itu, beliau meminta jama’ah untuk berkenalan di sekitar tempat duduknya. Karena disampingku kedua anakku, maka aku cuma berkenalan dengan satu orang, namanya Akhi Eman berasal dari daerah Parung Panjang, semoga Allah berkahi dan jaga beliau selalu, aamiin. Kemudian Ustadz berkata bahwa jangan meremehkan ukhuwwah dengan saudara kita, ada ibarat Arab,
أَخاكَ أَخاكَ إِنَّ من لا أَخاً لَه كساعٍ الى الهيجا بغير سلاحِ
“Jagalah persaudaraanmu, jagalah persaudaraanmu; karena sesungguhnya orang yang tidak mempunyai saudara (sahabat) bagaikan orang yang pergi ke medan perang tanpa membawa senjata.”
Kemudian Ustadz menginformasikan data perceraian yang terjadi di Jakarta, jumlah perceraian menyentuh angka 14.062, dimana di tahun yang sama pernikahan berjumlah 39.863, sekitar sepertiganya perceraian. Kebanyakan perceraian karena istri, wanita, tidak puas dengan pasangannya, sekitar 77,5%, terutama mengenai masalah ekonomi. Maka, mampukan diri sebelum menikah, sebagaimana Rasulullah bersabda
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ؛ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Siapa saja di antara kalian yang telah memiliki kemampuan, maka hendaklah dia menikah. Karena menikah itu dapat menundukkan pandangan, dan juga lebih bisa menjaga kemaluan. Namun, siapa saja yang belum mampu, hendaklah dia berpuasa, sebab hal itu dapat meredakan nafsunya.”
Kemudian Ustadz menyatakan bahwa disinilah pentingnya Tauhid dalam berumah tangga, beliau menyampaikan bahwa Aisyah pernah meriwayatkan bahwa di rumah Nabi ﷺ pernah tidak menyala kompornya hingga berbulan-bulan, hanya memiliki kurma dan air (HR. Muslim). Mentadabburi surat Al-Fatihah menjadi sangat penting di dalam keluarga,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
“Hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Jadikanlah selalu Allah sebagai penolongmu dalam rumah tangga. Rumah tangga akan berantakan saat kita menjadikan selain Allah sebagai penolong. Mintalah selalu petunjuk pada Allah ﷻ, sebagaimana do’a kita dalam surat Al-Faatihah
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
“Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus”
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
“Jalan orang-orang yang engkau beri nikmat, bukan orang-orang yang…”
ٱلْمَغْضُوبِ = Dimurkai, orang yang sudah mengetahui ilmunya, namun enggan mengamalkan.
Dan bukan orang-orang yang,
ٱلضَّآلِّينَ = Tersesat, orang yang beramal tanpa mengetahui ilmunya.
Kemudian Ustadz mengingatkan kita semua mengenai pasangan yang beriman melebihi apapun. Jangan mencari dan menikahi wanita musyrik, kafir, sesungguhnya kedudukan (budak atau bangsawan), rupa (cantik/tampan), tidak lebih baik daripada keimanan pasangan kita. Menikahlah dengan orang yang memiliki visi berumah tangga yang sama, yang hendak menggapai apa yang Allah firmankan,
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah”.
Jadikanlah rumah tangga kita untuk beribadah pada Allah ﷻ, meraih Ridha-Nya, meraih surga-Nya, melalui menjalankan syari’at-syari’at Nya. Dengan tauhid, kita tidak menjadikan diri kita sebagai “hamba” dari pasangan-pasangan kita, cinta yang paling kokoh sejatinya adalah cinta karena Allah ﷻ.
أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا
“Cintailah orang yang engkau cintai seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR. Tirmidzi 1997 Maktabatul Ma’arif riyadh)
Pasangan, keturunan, adalah nikmat sekaligus ujian, ujian apakah kita selalu mentauhidkan Allah ﷻ dan mencintai mereka tidak melebihi cinta kita pada Allah ﷻ?
Ustadz lalu mengingatkan kita bahwa kebahagiaan itu dapat diraih dengan menjaga keimanan, maka berdzikir kepada Allah ﷻ harus senantiasa dilakukan. Salah satunya mendawwamkan dzikir,
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah penolong bagi kami, karena Dia sebaik-baiknya penolong”
Saat diri ini merasa “Suliit,… ngga bissaa,…” maka tanyalah pada dirimu “Mana imanmu?”. Baca, tadabburi, pahami Al-Quran dan Hadits Nabi ﷺ. Ketika kita memiliki masalah, kembali kepada Allah ﷻ, kembali pada yang mendekatkan kita kepada Allah ﷻ. Sebagaimana kisah sahabat mulia Ali bin Abi Thalib ketika berselisih di rumahnya, ia pergi ke masjid, ke baitullah, bukan ke tempat-tempat maksiat, bukan ke tempat-tempat yang tidak diridhai Allah ﷻ. Saat musibah terasa sakit, dan kita merasa obatnya yakni dzikir, do’a, sudah kita lakukan, maka, tambahkan dosis dari obat tersebut, karena mungkin dosis yang kita lakukan masih belum mencukupi, tambah terus dzikir, do’a kepada-Nya.
Ketika kita merasa sulit, maka belajarlah dari Bunda Hajar, istri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau dan Baginda Nabi Ismail ‘alaihumas salam, ditinggalkan Nabi Ibrahim di padang pasir yang luas tanpa sesuatu bekal apapun, ketika beliau tahu bahwa itu perintah Allah ﷻ, maka ia dengan lapang dada menjalani semuanya.

Kurang lebih itu yang beliau sampaikan, kemudian Ustadz menjawab berbagai pertanyaan dari para jama’ah. Majelis selesai, para jama’ah meninggalkan masjid secara tertib tanpa berdesakkan, tidak saling dorong, tanpa menyakiti saudara-saudaranya.
Lalu kami kembali ke rumah, setelah sebelumnya membeli makan malam karena ketiga anak kami lapar lagi, hehe. Walaupun setelah makanannya siap, ternyata rasa kantuk mengalahkan mereka bertiga.
Itulah catatan kami ketika menghadiri majelis ilmu Ustadz Syafiq Riza Basalamah di Masjid Al-Ukhuwwah BSD, Cisauk. Semoga catatan sederhana dan kebanyakan tulisan ini bisa bermanfaat, kesalahan murni dari saya dan Allah serta Rasul-Nya terbebas dari segala kesalahan dalam tulisan saya.
بَارَكَ الله فِيْكُمْ
